Status Merapi Siaga, 1.294 Warga Berkebutuhan Khusus Dievakuasi

oleh
suasana di barak pengungsian Gunung Merapi untuk manula

Penyaluran logistik sesuai dengan prokol Covid-19

kilasrepublik.com – Seiring meningkat nya aktifitas Gunung Merapi yang dilaporkan Badan Penanggulangan  bencana (BNPB) lebih dari 1000 warga telah dievakuasi. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, total 1.294 warga telah dievakuasi ke empat wilayah di kabupaten yakni Boyolali, Magelang, Klaten dan Sleman. Para pengungsu tersebut anvtara lain lanjut usia, anak-anak, balita, ibu hamil, disabilitas dan ibu menyusui.

Sementara untuk logistik Penyediaan makanan bagi warga lereng Gunung Merapi yang mengungsi di barak pengungsian Glagaharjo tidak dilakukan dengan cara prasmanan. Melainkan pengungsi diberikan jatah masing-masing dengan menggunakan nasi bungkus yang telah dibuat oleh para relawan. Hal itu sebagai salah satu upaya untuk mengurangi resiko penyebaran Covid-19 di lingkungan pengungsian. Sebab memang kondisi kesehatan para pengungsi menjadi hal utama yang wajib dijaga dengan ketat. Makanan untuk pengungsi sekarang terkait dengan masih berlangsungnya masa pandemi Covid-19 tidak di hidangkan secara prasmanan lagi tapi dengan bentuk nasi bungkus.

Penyediaan makan di barak pengungsian Glagaharjo menyesuaikan dengan banyaknya pengungsi dan relawan yang ada. Setidaknya bisa mencapai 250 hingga 300 bungkus per satu kali buat atau memasak yang dibagi pada jam pagi, siang dan sore.

Diharapkan bahwa kebersihan atau pencegahan penyebaran Covid-19 tidak hanya sampai di situ saja. Menurutnya juru masak dan pembungkus nasi perlu memperhatikan juga kebersihan diri dengan tetap memakai masker dan sarung tangan selama proses berlangsung.

Terkait dengan permintaan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X  yang beberapa waktu lalu berkunjung ke barak pengungsian Glagaharjo mengenai menu makanan dari pengungsi, pihaknya kini mengaku tengah melakukan koordinasi dengan beberapa pihak.  karena selama ini menu yang disajikan kepada pengungsi ditentukan oleh tim memasak.

Saat ini pengungsi yang mayoritas memang dari kelompok rentan tidak membantu secara lebih banyak untuk urusan dapur. Para pengungsi hanya akan diminta untuk bersih-bersih di sekitar barak. Salah satu pengungsi, Ngatmi, merasa justru di pengungsian ini makanan yang disajikan lebih istimewa dibanding di rumah. Lauknya yang lengkap dan variatif membuatnya tidak memiliki permasalahan terhadap menu makanan yang diberikan.

“Kalau di rumah sederhana, tapi di sini malah sudah diistimewakan. Mungkin cuma agak kebanyak aja kalau di rumah kan bisa ditakar sendiri jadi pas,” kata Ngatmi. Menurutnya penyajian yang dilakukan menggunakan bungkus juga menjadikannya relatif lebih bersih dibandingkan dengan penyajian prasmanan. Sebab, kata Ngatmi, sekarang masih dalam kondisi pandemi Covid-19 sehingga tetap harus menjaga kebersihan. (red)